Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Kala Khulafaur Rasyidin
Pada masa Abu Bakar As-Siddiq (632-634 M ) ada banyak ilmu pengetahuan yang berkembang. Abu Bakar As-Siddiq ialah pemimpin yang diangkat sesudah nabi wafat untuk menggantikan nabi dan melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan pemerintah.
Dimulai dari Ekspedisi ke Utara Selepas berjaya mengurangkan golongan riddah, Syaidina Abu Bakar mula-mula menghantarkan panglima-panglima perang Islam ke utara untuk memerangi Byzantine (Rom Timur) dan Empayar Parsi. Khalid Al-Walid berjaya menawan Iraq hanya dalam satu kempen ketenteraan. Beliau juga menempuh kejayaan dalam beberapa ekspedisi ke Syria. Menurut seorang orientalis Barat, kempen Saidina Abu Bakar hanyalah sebuah lanjutan daripada Perang Riddah. Hal ini terang salah memandangkan kebanyakan golongan riddah terletak di selatan Semenanjung Arab dan bukannya di utara. lalu pada masa kejayaannya, Abu Bakar As-Siddiq melaksanakan pengumpulan Al-Quran.
Setelah wafatnya Abu Bakar As-Siddiq, maka dia digantikan oleh Umar Bin-Khatab ( 634-644 M ). Pada masa Umar bin Khattab, kondisi politik dalam keadaan stabil, perjuangan ekspansi wilayah islam pemperoleh hasil yang gemilang. Wilayah islam pada masa umar bin Khattab mencakup Semenanjung Arabiah, Palestina, Siria, Irak, Persia dan Mesir. Dengan meluasnya wilayah Islam menjadikan meluas pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diharapkan umat Islam yang mempunyai keterampilan dan keahlian, sehingga dalam hal ini diharapkan pendidikan. Pada masaUmar Bin Khattab, sahabat-sahabat yang sangat besar lengan berkuasa tidak diperbolehkan untuk keluar kawasan kecuali atas izin dari dia dan dalam waktu yang terbatas. Jadi, bila ada diantara umat Islam yang ingin berguru hadis harus pergi ke madinah, ini berarti bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidikan berpusat di Madinah.
Kemudian sesudah wafatnya Umar Bin-Khatab, dia digantikan oleh Usman Bin Affan ( 644-656 M ). Pada masa Usman Bin Affan, pelaksanaan pendidikan islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan islam. Para sahabat yang besar lengan berkuasa dan erat dengan Rasullullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan madinah dimasa Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah. Proses pelaksanaan referensi pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih gampang di jangkau oleh penerima didik yang ingin menuntut dan berguru islam dan dari segi sentra pendidikan juga lebih banyak, lantaran pada masa ini para sahabat bias menentukan tempat mereka inginkan untuk memperlihatkan pendidikan pada masyarakat. Usman sudah merasa cukup dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu ada satu perjuangan yang cemerlang yang telah terjadi di masa ini yang besar lengan berkuasa luar biasa bagi pendidikan islam, yaitu untuk mengumpulkan goresan pena ayat-ayat Al-Qur’an. Berdasarkan hal-hal ini, Kholifah Usman memerintahkan kepada tim untuk menyalin tersebut, ada pun tim tersebut adalah: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist.
Khalifah terahir yakni Ali Bin Abi Thalib ( 656-661 M ). Setelah wafatnya Usman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib pun diangkat menjadi pemimpin. Pada pemerintahannya sudah diguncang peperangan dengan Aisyah beserta Talhah dan Abdullah bin Zubair lantaran kesalahpahaman dalam menyikapi pembunuhan terhadap usman, peperangan di antara mereka disebut perang Jamal (unta) lantaran Aisyah memakai kendaraan unta. Setelah berhasil mengatasi pemberontakan Aisyah, muncul pemberontakan lain, sehingga masa kekuasaan Khalifah Ali tidak pernah mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Muawiah sebagai gubernur Damaskus memberontak untuk menggulingkan kekuasaannya. Perang ini disebut dengan perang Siffin, lantaran terjadi di Siffin. Ketika tentara muawiyah terdesak oleh pasukan Ali, maka Muawiyah segera mengambil siasat untuk menyatakan tahkim (penyelesaian dengan adil dan damai). Semula Ali menolak, tetapi lantaran desakan sebagian tentara risikonya Ali menerimanya, namun Tahkim malah mengakibatkan kekacauan, lantaran muawiyah berbuat curang. Muawiyah berhasil mengalahkan Ali dan mendirikan pemerintahan tandingan di Damaskus. Sementara itu, sebagian tentara yang menentang keputusan Ali dengan cara Tahkim, meninggalkan Ali dan menciptakan kelompok tersendiri yaitu Khawarij. Sumber http://senyumketiga.blogspot.com
Dimulai dari Ekspedisi ke Utara Selepas berjaya mengurangkan golongan riddah, Syaidina Abu Bakar mula-mula menghantarkan panglima-panglima perang Islam ke utara untuk memerangi Byzantine (Rom Timur) dan Empayar Parsi. Khalid Al-Walid berjaya menawan Iraq hanya dalam satu kempen ketenteraan. Beliau juga menempuh kejayaan dalam beberapa ekspedisi ke Syria. Menurut seorang orientalis Barat, kempen Saidina Abu Bakar hanyalah sebuah lanjutan daripada Perang Riddah. Hal ini terang salah memandangkan kebanyakan golongan riddah terletak di selatan Semenanjung Arab dan bukannya di utara. lalu pada masa kejayaannya, Abu Bakar As-Siddiq melaksanakan pengumpulan Al-Quran.
Setelah wafatnya Abu Bakar As-Siddiq, maka dia digantikan oleh Umar Bin-Khatab ( 634-644 M ). Pada masa Umar bin Khattab, kondisi politik dalam keadaan stabil, perjuangan ekspansi wilayah islam pemperoleh hasil yang gemilang. Wilayah islam pada masa umar bin Khattab mencakup Semenanjung Arabiah, Palestina, Siria, Irak, Persia dan Mesir. Dengan meluasnya wilayah Islam menjadikan meluas pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diharapkan umat Islam yang mempunyai keterampilan dan keahlian, sehingga dalam hal ini diharapkan pendidikan. Pada masaUmar Bin Khattab, sahabat-sahabat yang sangat besar lengan berkuasa tidak diperbolehkan untuk keluar kawasan kecuali atas izin dari dia dan dalam waktu yang terbatas. Jadi, bila ada diantara umat Islam yang ingin berguru hadis harus pergi ke madinah, ini berarti bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidikan berpusat di Madinah.
Kemudian sesudah wafatnya Umar Bin-Khatab, dia digantikan oleh Usman Bin Affan ( 644-656 M ). Pada masa Usman Bin Affan, pelaksanaan pendidikan islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan islam. Para sahabat yang besar lengan berkuasa dan erat dengan Rasullullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan madinah dimasa Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah. Proses pelaksanaan referensi pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih gampang di jangkau oleh penerima didik yang ingin menuntut dan berguru islam dan dari segi sentra pendidikan juga lebih banyak, lantaran pada masa ini para sahabat bias menentukan tempat mereka inginkan untuk memperlihatkan pendidikan pada masyarakat. Usman sudah merasa cukup dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu ada satu perjuangan yang cemerlang yang telah terjadi di masa ini yang besar lengan berkuasa luar biasa bagi pendidikan islam, yaitu untuk mengumpulkan goresan pena ayat-ayat Al-Qur’an. Berdasarkan hal-hal ini, Kholifah Usman memerintahkan kepada tim untuk menyalin tersebut, ada pun tim tersebut adalah: Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist.
Khalifah terahir yakni Ali Bin Abi Thalib ( 656-661 M ). Setelah wafatnya Usman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib pun diangkat menjadi pemimpin. Pada pemerintahannya sudah diguncang peperangan dengan Aisyah beserta Talhah dan Abdullah bin Zubair lantaran kesalahpahaman dalam menyikapi pembunuhan terhadap usman, peperangan di antara mereka disebut perang Jamal (unta) lantaran Aisyah memakai kendaraan unta. Setelah berhasil mengatasi pemberontakan Aisyah, muncul pemberontakan lain, sehingga masa kekuasaan Khalifah Ali tidak pernah mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Muawiah sebagai gubernur Damaskus memberontak untuk menggulingkan kekuasaannya. Perang ini disebut dengan perang Siffin, lantaran terjadi di Siffin. Ketika tentara muawiyah terdesak oleh pasukan Ali, maka Muawiyah segera mengambil siasat untuk menyatakan tahkim (penyelesaian dengan adil dan damai). Semula Ali menolak, tetapi lantaran desakan sebagian tentara risikonya Ali menerimanya, namun Tahkim malah mengakibatkan kekacauan, lantaran muawiyah berbuat curang. Muawiyah berhasil mengalahkan Ali dan mendirikan pemerintahan tandingan di Damaskus. Sementara itu, sebagian tentara yang menentang keputusan Ali dengan cara Tahkim, meninggalkan Ali dan menciptakan kelompok tersendiri yaitu Khawarij. Sumber http://senyumketiga.blogspot.com
0 Response to "Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Kala Khulafaur Rasyidin"
Posting Komentar