-->

iklan banner

Posisi, Kedudukan, Dan Tugas Psikologi Pendidikan Dalam Proses Pembelajaran

Disusun untuk memenuhi Ujian Tengah Semester mata kuliah Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran
Dosen              : Lily Barlia,M.Sc,Ed,Ph.D
Penyusun         : Dian Mila Kusuma
Prodi                : Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Untirta


Belajar pada hakikatnya yakni proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar sanggup dipandang sebagi proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui aneka macam pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu (Sudjana, 1989). Dalam suatu proses belajar, seorang individu berinteraksi dengan lingkungannya untuk memahami dan mengalami sesuatu yang nantinya akan menjadi sebuah pengetahuan bagi individu tersebut. Hal ini berarti, seorang individu berguru melalui proses pemahaman dan pengalaman.
Pembelajaran merupakan suatu proses terjadinya komunikasi dan interaksi antara pengajar dan pembelajar, dalam hal ini guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pembelajar untuk mencapai suatu tujuan tertentu, yang  disebut sebagai tujuan pembelajaran. Dalam proses ini terjadi transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa. Melalui transfer ilmu pengetahuan tersebut diperlukan siswa sanggup membekali diri untuk berinteraksi dengan lingkungannya dan bermanfaat dalam penerapan kehidupan sehari-hari.Proses pencapaian tujuan pembelajaran melalui suatu siklus yaitu conceptual understanding, conceptual changing, dan behavior changing.
 Dalam proses pembelajaran, siswa mempelajari dan memahami suatu pengetahuan gres baginya yang ia dapatkan dari hasil initeraksidan komunikasinya dengan lingkungannya. Hal inilah yang disebut dengan conceptual understanding, dimana siswa atau seseorang dalam proses pembelajarannya mendapatkan  pengetahuan yang baru.
Siklus yang berikutnya terjadi yakni conceptual changing, dimana sesudah mendapat pengetahuan baru, siswa atau seseorang tersebut akan mengalami penambahan pengetahuan. Penambahan pengetahuan tersebut akan kuat terhadap cara berpikirnya. Siswa atau seseorang tersebut akan mempunyai cara berpikir yang berbeda dengan sebelumnya. Hal ini disebut dengan conceptual changing.
Siklus yang terakhir terjadi dalam proses pembelajaran yakni behavior changing. Setelah siswa mendapat dan memahami pengetahuan gres yang kemudian mengubah pemahamannya dan menambah pengetahuan yang telah dimilikinya, maka hal yang terjadi kemuadian yakni perubahan perilaku. Perubahan sikap ini terjadi alasannya yakni siswa atau seseorang tersebut telah mengubah cara berpikirnya. Sebagai contoh kasus, seorang anak mendapat pengetahuan bahwa membuang sampah sembarangan akan mengakibatkan banyak hal buruk, di antaranya penyebaran bakteri penyakit oleh lalat, dan banjir. Dari pengetahuan yang gres didapatnya, anak tersebut secara otomatis mengubah cara berpikirnya, yaitu timbul kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan.  Dengan berubahnya cara berpikir anak tersebut, maka berubah pula prilakunya dalam hal membuang sampah. Anak tersebut tidak lagi membuang sampah sembarangan.
Tercapainya tujuan pembelajaran tidak sanggup dilepaskan dari kiprah pemahaman dan aplikasi psikologi pendidikan. Barlow mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai “a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resource to aid you in functioning more effectively in teaching learning process.” Menurut Barlow, psikologi pendidikan yakni sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses berguru mengajar secara efektif. Pernyataan Barlow ini menyiratkan bahwa dalam proses pembelajaran tidak hanya terjadi transfer ilmu saja, tetapi juga terjadi interaksi sehingga guru sebagai pendidik perlu dibekali pemahaman wacana psikologi untuk memudahkan terjadinya transfer ilmu dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan teori tersebut, maka guru harus bisa melayani dan memfasilitasi secara tepat sesuai dengan tingkat perkembangan dan perbedaan karakteristik siswa. Terdapat banyak faktor yang harus diperhatikan antara lain yang meliputi tingkat perkembangan intelektual; sensitifitas pada usianya; previous, basic, dan background knowledge of learners (latar belakang pengetahuan, pengetahuan dasar dan penguasaan pengetahuan sebelumnya dari siswa); teaching and learning moments (momen berguru mengajar); scope and sequence of the teaching/learning materials (cakupan dan urutan materi pembelajaran); the specific moment/situation when the teaching materials offered (situasi tertentu pada dikala materi pembelajaran disampaikan); instructional strategies used (strategi pembelajaran yang digunakan); termasuk the acceptability of the teacher by learners (keterterimaan guru oleh siswa); dan teacher’s personality in teaching and learning process (kepribadian guru dalam proses berguru mengajar).   
Tingkat Perkembangan Intelektual dan Sensitivitas pada Usianya
            Intelegensi yakni suatu keahlian memecahkan dilema dan kemampuan untuk menyesuaikan diri pada, dan berguru dari pengalaman hidup sehari-hari. Dimana minat terhadap intelegensi seringkali difokuskan pada perbedaan individual dan penilaian individual (Kaufman & Lictenberger,2002; Lubinski, 2000; Molfse & Martin, 2001).
            Dalam proses pembelajaran, seorang guru harus memahami siswa yang dihadapinya semoga terjadi interaksi yang baik. Setelah interaksi dan komunikasi terjalin dengan baik, maka  diharapkan tujuan pembelajaran pun akan tercapai dengan mudah. Siswa dengan usia yang berbeda mempunyai tingkat kecerdasan berbeda. Hal ini yakni salah satu bekal yang harus dimiliki oleh seorang guru sebelum melaksanakan proses pembelajaran.
            Jean Piaget melaksanakan penelitian terhadap perkembangan intelektual anak semenjak ;lahir hingga dewasa, yang menghasilkan pembagian perkembangan intelegensi menjadi empat tahap, yaitu:
1.      Tahap Sensorik-Motorik
Tahap sensorik-motorik dimulai pada dikala usia 0 – 2 tahun, yangterlihat pada bayi yang mulai menampilkan prilaku reflektif, dengan melibatkan prilaku yang inteligen. Prilaku seorang bayi sangat mengandalkan gerakan refleksinya. Kemudian, dua bulan kemudian, bayi akan mulai berguru untuk membedakan objek yang ada di sekitarnya, dimulai dengan menghisap jari dan benda yang ada di dekatnya.
Pada masa ini, bayi mengorganisasikan bagan tindakan fisik mereka menyerupai menghisap, menggenggam, dan memukul untuk menghadapi dunia yang muncul di hadapannya. Piaget beropini bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman penting dalam enam sub-tahapan; (a) bagan refleks yang bekerjasama dengan refleks; (b) fase reaksi sirkular primer bekerjasama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan; (c) fase reaksi sirkular sekunder bekerjasama dengan koordinasi indera penglihatan dan pemaknaan; (d) koordinasi reaksi sirkular sekunder bekerjasama dengan berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda bila dilihat dari sudut berbeda; (e) fase reaksi sirkular tersier bekerjasama denga cara-cara gres untuk mencapai tujuan; (f) awal representasi simbolik bekerjasama dengan tahapan awal kreatifitas.
2.      Tahapan Praoperasional
Tahapan ini terjadi pada usia 2 – 7 tahun. Pada masa ini, bawah umur berguru memakai simbol-simbol dan pencitraan batiniah akan tetapi pikiran mereka masih tidak sistematis dan tidak logis. Pikiran pada masa ini sangat berbeda dengan masa dewasa. Ciri dari tahapan ini yakni operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahap ini, anak berguru memakai dan mempresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris; anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak sanggup mengklasifikasikan objek memakai satu ciri, menyerupai mengumpulkan benda merah walau bentuknya majemuk atau mengumpulkan semua benda lingkaran walau warnanya berbeda-beda.
3.      Tahapan Operasional Konkrit
Tahapan ini terjadi antara usia 8 – 11 tahun, dimana bawah umur mengembangkan kemampuan berpikir sistematis, akan tetapi hanya ketika mereka sanggup mengacu pada objek-objek dan aktifitas-aktifitas konkret. Proses-proses penting selama tahapan ini yakni penggurutan, klasifikasi, decentering, reversibility, konservasi dan penghilangan sifat egosentrisme.
4.      Tahapan Operasional Formal
Pada usia 11 tahun hingga dewasa, orang muda mengembangkan kemampuan untuk berpikir sistematis berdasarkan rancangan yang murni abnormal dan hipotesis.
Tahap operasional formal yakni periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut hingga dewasa. Karakteristik dalam tahap ini yakni diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang sanggup memahami hal-hal menyerupai cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya.
Berdasarkan tahapan-tahapan perkembangan di atas, maka seorang guru sanggup melihat berada dalam kelompok manakah siswa yang sedang dihadapi dalam proses pembelajaran yang sedang dipandunya. Dengan mengetahui tingkat kecerdasan siswa secara umum, maka guru sanggup menentukan metode pengajaran apa yang terbaik agaar tujuan pembelajaran sanggup tercapai. Selain itu, guru juga harus mengetahui lebih jauh wacana tingkat keceerdasan siswa secara individu. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan tingat kecerdasan siswa yang dipengaruhi oleh faktor hereditas dan lingkungan.  Sejalan dengan pemikiran tokoh Pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantoro, yang mengemukakan adanya faktor yang mensugesti perkembangan individu yaitu faktor dasar atau faktor pembawaan internal, dan faktor ajar atau lingkungan (faktor eksternal).
Prior, Basic and Background Knowledge
            Istilah background knowledge dan prior knowledge sering dipakai secara bergantian oleh beberapa ahli. Stevens (1980) mendefinisikan background knowledge sebagai “...what one already knows about a subject...” Menurutnya background knowledge yakni apa yang telah diketahui oleh seseorang wacana suatu subjek. Sementara definisi yang dikemukakan oleh Biemans & Simons (1996) lebih kompleks “...(background knowledge is) all knowledge learners have when entering a learning environment that is potentially relevant for acquiring new knowledge” Biemans & Simons mendefinisikan background knowledge sebagai seluruh pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pembelajar pada dikala memasuki suatu lingkungan pembelajaran yang memungkinkan untuk mendapat pengetahuan baru.
            Jadi, sanggup disimpulkan bahwa prior, basic and background knowledge atau biasa kita sebut sebagai latar belakang pengetahuan, pengetahuan dasar, dan pengetahuan sebelumnya, merupakan rangkaian kekayaan pengetahuan siswa wacana suatu objek pengetahuan sebelum guru memberikan objek pengetahuan tersebut dalam proses pembelajaran.
            Siswa berguru sebagian besar dengan cara membaca. Untuk sanggup membaca secara efektif, siswa perlu mengintegrasikan materi yang gres dibacanya ke dalam pengetahuan yang telah ia miliki, membangun pemahaman baru, dan mengadaptasikannya dengan konsep yang telah ada. Kemampuan menyerupai ini sangat penting untuk mencapai pemahaman teks secara menyeluruh. Siswa yang mempunyai latar belakang pengetahuan yang sedikit, dan mereka yang tidak bisa mengaktifasi latar belakang pengetahuan mereka akan menghadapi kesulitan dalam mengakses, berpartisipasi, dan berkembang dalam proses pembelajaran, dimana kemampuan membaca dan memahami teks merupakan prasyarat kesuksesan belajar.
            Untuk mengantarkan kesuksesan siswa dalam membaca untuk berguru (read to learn), seorang guru harus bisa memandu siswa dalam mengaktifasi background knowledge mereka sebelum guru mulai mengajarkan materi baru. Di sinilah guru harus benar-benar memerankan diri dalam tahap eksplorasi menyerupai tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dibuatnya. Dalam tahap eksplorasi ini seorang guru harus bisa mengeksplor atau memunculkan background knowledge siswa sehubungan dengan materi yang akan diajarkan. Proses ini juga seringkali disebut sebagai brainstorming.
            Dalam tahapan brainstorming, guru juga harus bisa mendistribusikan background knowledge secara merata kepada seluruh siswa. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kesulitan siswa dalam memahami materi yang akan diajarkan. Dengan demikian, diperlukan guru akan mencapai perjuangan maksimal dalam membekali siswa dengan background knowledge yang cukup untuk memahami materi yang akan diajarkan.
Faktor Penentu Keberhasilan Pembelajaran
            Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran sangat bergantung pada beberapa faktor.  Sekitar 90% keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran bergantung pada keterampilan guru dalam mempersiapkan materi pembelajaran, menentukan taktik pembelajaran, peka dalam memahami dan memanfaatkan teaching and learning moments,kemampuan berimprovisasi dalam situasi pembelajaran tertentu, dan kemampuan guru dalam membawa diri serta memunculkan pribadi positif sehingga keterterimaan guru  oleh siswa cukup tinggi.
            Dalam suatu proses pembelajaran, seorang guru harus mempersiapkan materi pembelajaran secara cermat. Persiapan materi pembelajaran ini tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Dalam RPP tersebut seorang guru harus menciptakan urutan proses pembelajaran secara terinci mulai dari penentuan Standar kompetensi hingga planning bentuk soal dalam evaluasi. Hal ini untuk menghindarkan hal-hal yang mungkin terlupakan dalam proses pembelajaran. RPP berfungsi sebagai pemandu dan contoh selama proses berguru mengajar berlangsung.
            Apabila seorang guru tidak menciptakan RPP sebagai pedoman dalam proses pembelajaran, maka memungkinkan terjadinya ketidaksempurnaan dalam penyampaian materi. Bisa saja guru terlupa melaksanakan brainstrorming di awal pembelajaran alasannya yakni ia terlalu asik memberi motivasi pada siswa. Alokasi waktu yang seharusnya dipakai untuk brainstorming hasilnya habis dipakai oleh guru untuk memberi motivasi siswa. Dengan adanya RPP juga sangat membantu guru dalam memberikaanmateri, alasannya yakni dalam RPP yang lengkap tercantum pula materi yang lengkap. Selain pencantuman materi yang lengkap, RPP yang baik juga harus dilengkapi oleh soal-soal latihan dan penilaian beserta kunci balasan dan sistem penilaian. Hal ini menghindarkan guru dari kesulitan dalam pemberian latihan dan evaluasi.
Seorang guru juga harus bisa menentukan taktik pembelajaran yang tepat untuk memberikan materi yang akan diajarkan. T Raka Roni (1983) beropini bahwa yang dimaksud dengan taktik pembelajaran yakni suatu mekanisme yang dipakai untuk menawarkan suasana yang konduktif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan Gerlach dan Elly (1989) menyatakan bahwa taktik yakni suatu cara yang terpilih untuk memberikan pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Definisi yang lain menyebutkan bahwa taktik yakni suatu garis besar haluan untuk bertindak dalam perjuangan mencapai target yang telah ditentukan (Djamarah dan Zain, 2002). Dengan demikian, pengertian taktik dalam pembelajaran yakni suatu mekanisme yang dipakai oleh guru dalam proses pembelajaran sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.  Strategi pembelajaran sebagi pola acara pembelajaran yang dipilih dan dipakai guru secara kontekstual sesuai dengan karakteristik siswa, kondisi sekolah, lingkungan serta tujuan khusus pembelajaran yang diinginkan.
            Strategi pembelajaran intinya bertolak dari keaktifan guru atau siswa. Di satu sisi ada taktik yang menekankan keaktifan guru atau taktik guru aktif (pembelajaran ekspositori) dan taktik yang menekankan keaktifan siswa atau taktik siswa aktif (pembelajaran discovery).
            Pembelajaran dengan pendekatan ekspositori merupaka suatu pembelajaran yang menekankan pada interaksi guru dengan siswa. Dalam pendekatan ini terjadi komunikasi satu arah, yaitu dari guru ke siswa sehingga guru jauh lebiih aktif dari pada siswa. Guru banyak berbicara untuk menginformasikan materi bimbing pada siswa, sementara siswa menjadi objek. Pembelajaran discovery memperlihatkan pembelajaran siswa aktif. Pembelajaran ini ditandai dengan komunikasi multi arah. Siswa yakni subjek belajar.
            Dalam taktik pembelajaran siswa aktif, terdapat beberapa taktik atau model pembelajaran yang bisa diterapkan, antara lain: Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), model pembeljaran kooperatif (Cooperative Learning), model pembelajaran tuntas (Mastery Learning), model pembelajaran berbasis dilema (Problem Based Learning), pembelajaran berdasarkan proyek (Project Based Learning), model pembelajaran berdasarkan komputer (Computer Based Instruction) dan model pembelajaran tematik (Thematic Learning).
            Ragam lain wacana taktik pembelajaran dicontohkan oleh Wina Sanjaya (2008). Ragam tersebut meliputi Strategi Pembelajaran berbasis masalah, atrategi pembelejaran meninghkatkan kemampuan berpikir, taktik pembelajaran kooperatif, taktik pembelajaran kontekstual dan taktik pembelajaran afektif.
Contextual Teaching Learning (CTL) merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga penerima didik bisa menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil berguru dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual meupakan konsepsi yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa menciptakan kekerabatan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan.
Cooperative learning dirancang untuk membantu terjadinya pembagian tanggung jawab ketika siswa mengikuti pembelajaran. Siswa lebih banyak berguru melalui proses pembentukan (constructing) dan penciptaan, kerja dengan tim, dan membuatkan pengetahuan sesama siswa. Walau pun begitu, tanggung jawab individual tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.
Pembelajaran tuntas merupakan sistem pembelajaran yang mengharapkan setiap siswa bisa menguasai kompetensi-kompetensi dasar (basic learning objectives) secara tuntas. Berpegang pada prinsip: bila setiap siswa diberikan waktu yang cukup sesuai dengan kecepatan belajarnya, dan yang bersangkutan memakai waktu dengan baik, maka besar kemungkinan siswa akan mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang ditentukan. Sebaliknya, bila siswa tidak diberi cukup waktu atau yang bersangkutan tidak memakai waktu yang disediakan, maka tingkat penguasaan kompetensi juga tidak akan optimal.
Problem based learning yakni pembelajaran yang memakai dilema sebagai materi pembelajaran bagi siswa, sehingga siswa sanggup berguru berpikir kritis dan teraampil memecahkan aneka macam dilema untuk memperoleh konsep atau pengetahuan yang esensial. Problem based learning disepadankan dengan project based learning. Problem based learning menekankan pada acara perumusan masalah, pengumpulan data, dan analisis data. Sedangkan pada project based learning menekankan pada acara perumusan pekerjaan , merancang, melaksanakan pekerjaan, dan mengevaluasi hasil kerja. Kedua model tersebut menekankan pada lingkungan siswa aktif, kerja tim, dan teknik penilaian otentik/bermakna.
Role play merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan dilema yang berkaitan dengan kekerabatan antar insan (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan penerima didik. Pengalaman berguru yang diperoleh dari metode role play yakni kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterpretasikan suatu kejadian.
Pembelajaran partisipatif merupakan model pembelajaran dengan melibatkan penerima didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. E. Mulyasa (2003) menyebutkan indikator pembelajaran partisipatif yang melipuuti adanya keterlibatan emosional dan mental penerima didik, adanya kesediaan penerima didik untuk memberkan kontribusi dalam pencapaian tujuan, serta dalam acara berguru mengajar terdapat hal yang menguntungkan penerima didik.
Pembelajaran inkuiri merupakan acara pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan memeriksa sesuatu secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka sanggup merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Teachable Moments
            Berdasarkan definisi dari Wikipedia, teachable moments yakni waktu dimana  seseorang bisa mempelajari suatu topik dengan sangat mudah. Konsep ini dipopulerkan oleh Robert Havighurst dalam bukunya Human Development and Eucation dalam konteks teori pendidikan mengatakan, “tugas pertumbuhan yakni kiprah yang dipelajari pada poin tertentu dan yangmembuat suksesnya pencapaian memungkinkan. Ketika timingnya tepat, kemampuan mempelajari suatu kiprah menjadi memungkinkan. Hal ini disebut “teachable moment”. Perlu diingat bahwa pembelajaran tidak akan terjadi bila waktunya tidak tepat. Karenanya, perlu dilakukan pengulangan terus menerus terhadap poin-poin penting setiap saat, sehingga ketika teachable moment seorang siswa terjadi, ia sanggup memanfaatkannya dengan baik.”
            Dari pengertian di atas, sanggup disimpulkan bahwa guru perlu melaksanakan pengulangan terhadap materi-materi yang dianggap penting alasannya yakni guru tidak pernah mengetahui kapan teachablemoment siswanya datang. Dengan pengulangan terus menerus diperlukan siswa sanggup memahami materi tersebut bila teachable moment tersebut tiba bertepatan dengan dikala pengulangan terjadi.
Teacher Acceptability
            Salah satu pemicu motivasi berguru siswa yakni guru. Guru yang bisa menciptakan siswa termotivasi akan bisa mengantarkan siswa tersebut berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Seorang guru harus bisa membawa diri dengan sifat-sifat positif dan bisa menilaikan nilai-nilai positif kepada siswanya. Dengan demikian siswa akan dipengaruhi oleh aura positif tersebut sehingga akan termotivasi pada akhirnya. Pada keadaan menyerupai ini dikatakan keterterimaan guru oleh siswa cukup tinggi.
            Banyak anak yang tidak anggun belajarnya di sekolah punya kekerabatan yang negatif dengan guru mereka. Mereka seringkali mengalami masalah, contohnya tidak mengerjakan tugas, tidak memperhatikan, atau alasannya yakni bikin onar. Dalam banyak kasus, mereka pantas ditegur dan dihukum, akan tetapi seringkali situasi kelas menjadi sangat tidak menyenangkan bagi mereka.
Nel Nodding (1992, 1998, 2002) percaya bahwa siswa kemungkinan besar akan menjelma insan yang kompeten apabila mereka merasa diperhatikan. Karenanya guru harus mengenal siswa dengan baik. Dia percaya bahwa keadaan menyerupai itu sulit diwujudkan di sekolah besar dengan siswa yang jumlahnya banyak di setiap kelasnya. 
Siswa yang merasa punya guru yang suportif dan perhatian akan lebih termotivasi untuk berguru dibandingkan dengan mereka yang merasa mempunyai guru yang tidak suportif dan tidak perhatian. Motivasi siswa akan bertambah bila guru memberinya kiprah yang menantang dalam lingkungan yang mendukung proses penguasaan materi. Guru mesti memberi dukungan emosional dan kognitif, memberi materi yang berarti dan menarik untuk dipelajari dan dikuasainya, dan memberi dukungan yang cukup bagi terciptanya kemandirian dan inisiatif siswa. Kecakapan diri (slf efficacy), motivasi dan iklim sekolah akan sangat mensugesti motivasi prestasi siswa. Sekolah dengan ekspektasi tinggi dan standar akademik yang tinggi, serta dukungan emosional dan akademik yang memadai, sringkali menciptakan siswa termotivasi untuk berprestasi.
Seorang guru yang memotivasi dengan memberi perhatian berusaha menciptakan kelas menjadi menarik, mengajar dengan cara yang spesial. Guru juga harus bisa berkomunikasi dengan baik dengan siswanya. Guru harus bisa bicara kepada siswa dengan baik, membei perhatian, mengajukan pertanyaan dan menjadi pendengar yang baik bagi siswanya.
Guru yang bisa memotivasi siswa harus bisa berprilaku adil dan respek. Guru harus bisa bersikap jujur dan adil, menepati janji, menciptakan siswa merasa dipercaya dan memberi tahu kebenaran pada siswanya.
Wujud perhatian guru juga sanggup diwujudkan dengan perhatian kepada masing-masing individu. Caranya bisa dengan bertanya bila ada sesuatu yang tidak beres, bicara kepada siswa mengenai problem siswa, bisa bersikap layaknya teman, bertanya dikala siswa membutuhkan bantuan, dan bisa meluangkan waktu untuk memahami dan berbicara dengan siswa.

Dari paparan yang telah disampaikan di atas, sanggup disimpulkan bahwa berperan penting dalam proses berguru mengajar. Hal ini sanggup dilihat dari bagaimana seorang guru harus sangat memperhatikan siswa dan mempersiapkan  proses berguru meengajar dengan baik. Guru harus memahami kondisi dan latar belakang siswanya untuk mengantarkan siswanya mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam mempersiapkan proses pembelajaran yakni tingkat perkembangan intelektual siswa, prior and background knowledge, teaching and learning moments, teaching materials, instructional strategies used, dan tidak kalah pentingnya teacher acceptance.

Sumber http://sembilandewi.blogspot.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Posisi, Kedudukan, Dan Tugas Psikologi Pendidikan Dalam Proses Pembelajaran"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel