-->

iklan banner

Pendekatan Keruangan (Spatial Approach)

Menurut Bintarto (1991), kajian keruangan sanggup dibedakan menjadi:(a) ruang fisik, yaitu wadah dari banyak sekali sistem kehidupan dan komponen-komponen alam dan non alam;(b) ruang sosial, yaitu suatu sintesis dari dimensi persepsi dengan dimensi obyektif terhadap ruang, yang membentuk ragam ruang sosial.

Ragam ruang sosial meliputi: bentang fisik (pegunungan, gurun pasir, lembah, dan lain-lain); bentang sosial (masyarakat nomadis, masyarakat nelayan, dan lain-lain); dan bentang budaya (perdesaan, perkotaan, jaringan jalan, dan lain-lain). Secara keruangan, suatu penelitian dalam ilmu geografi mengacu pada beberapa pokok, antara lain:
(a) fakta pola pemanfaatan ruang yang kini ada;
(b) laba dan kelemahan lokasi yang strategis;
(c) faktor yang mempengaruhi pola penyebaran obyek yang dikaji; dan
(d) intervensi semoga pola penyebaran tersebut sanggup lebih efisien, menunjukkan meningkatkan secara optimal hasil, dan kelestarian pemanfaatan.Pendekatan keruangan merupakan metode pendekatan yang khas dalam geografi. Pada pelaksanaan pendekatan keruangan ini harus tetap menurut prinsip-prinsip yang berlaku. Prinsip-prinsip tersebut antara lain: prinsip penyebaran, interelasi, dan deskripsi, sedangkan yang termasuk pendekatan keruangan, yaitu pendekatan topik, pendekatan kegiatan manusia, dan pendekatan regional. Secara teoretis pendekatan itu sanggup dipisahkan satu sama lain, akan tetapi pada kenyataan praktisnya, berafiliasi satu sama lain.

a. Pendekatan Topik
Dalam mempelajari suatu problem geografi di wilayah tertentu, kita sanggup mengadakan pendekatan dari topik tertentu yang menjadi perhatian utama. Misalnya di daerah tertentu, topik yang menjadi perhatian utama yakni kelaparan maka kelaparan inilah yang menjadi sorotan utama dalam pendekatan topik.
Yang menjadi pegangan pokok dalam melaksanakan pendekatan topik ini, yaitu dihentikan dilepaskan hubungannya dengan ruang yang menjadi wadah tanda-tanda atau topik yang kita dekati. Faktor-faktor geografi ibarat manusianya dan keadaan fisisnya dihentikan diabaikan. Dengan landasan keruangan ini, kita akan sanggup mengungkapkan karakteristik kelaparan di daerah yang bersangkutan kalau dibandingkan dengan tanda-tanda atau kelaparan di wilayah yang lainnya.
Kelaparan di daerah tersebut diungkapkan jenis-jenisnya, sebab-sebabnya, penyebarannya, intensitasnya, dan interelasinya dengan tanda-tanda yang lain dan dengan problem secara keseluruhan.

b. Pendekatan Aktivitas Manusia (Human Activities)
Aktivitas penduduk ini sanggup ditinjau dari penyebarannya, interelasinya, dan deskripsinya dengan gejala-gejala lain yang berkenaan dengan kegiatan tadi. Ditinjau dari penyebarannya, kita akan sanggup membedakan jenis kegiatan tadi sehubungan dengan mata pencarian penduduk. Apakah kegiatan itu berlangsung di daerah pegunungan, apakah di dataran rendah, apakah erat dengan sungai, apakah dari sungai, apakah di pantai, dan seterusnya.
Dari kegiatan penyebaran penduduk tadi, kita sanggup mengungkapkan interelasinya dengan keadaan kesuburan tanah, dengan hidrografi, dengan keadaan komunikasi-transportasi, dengan keadaan tinggi-rendah permukaan, dan dengan faktor-faktor geografi lainnya. Oleh lantaran itu, kita sanggup menciptakan suatu deskripsi wacana kegiatan penduduk tadi menurut interelasi keruangan dengan gejala-gejala lain dan dengan banyak sekali problem sebagai sistem keruangannya.

Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi sanggup dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processes)

Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut sanggup disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).

Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk ibarat itu?
5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur ibarat itu?
6. Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur

Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari eksistensi ruang ibarat itu selalu dikaitkan dengan kepentingan insan pada ketika ini dan akan datang.

Analisis kerungan yang mendasarkan pada perbedaan lokasi dari sifat-sifat pentingnya. Ahli geografi berusaha mencari faktor-faktor yang memilih pola penyebaran serta cara mengubah pola sehingga dicapai penyebaran yang lebih baik, efisien dan wajar.

Pendekatan keruangan kajiannya sanggup pula diarahkan pada kegiatan insan dalam ruang/wilayah. Hal ini sanggup ditinjau dari sebaran keruangan kegiatan mana interrelasinya dengan aspek lain, baik menyangkut fisik manusia.

Dalam analisis keruangan dikumpulkan data ruang di suatu tempat/wilayah yang terdiri dari data titik (point) dan data bidang (areal). Data titik mencakup letak lintang, tinggi tempat, curah hujan, sampel batuan, tanah dan lain-lain. Data bidang mencakup luas hutan, daerah pertanian, luas lahan kritis dan lain-lain. Hal yang harus diperhatikan dalam analisis keruangan yakni penyebaran, penggunaan ruang dan perencanaan ruang.

Dalam pendekatan keruangan dipergunakan beberapa analisis dalam mengkaji permasalah geografi yaitu:
Analisis lokasi

lokasi suatu ruang dimuka bumi ada dua yaitu lokasi absolute dan lokasi relatif. Lokasi absolute yakni lokasi dengan posisi ditentukan oleh garis lintang dan garis bujur bola bumi. Lokasi relative yaitu lokasi suatu wilayah yang berafiliasi dengan kondisi alam, social budayadaerah sekitarnya.
Analisis penyebaran

Pola penyebaran secara umum sanggup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu mengelompok, tersebar merata dan tersebar tidak merata. Analisis penyebaran ini sanggup menganalisis pola-pola pemukiman, sebaran sumberdaya alam, vegetasi dan lain-lain, sehingga sanggup kita bedakan dari wilayah lainnya.
Analisis interaksi

Pada dasarnya wilayah berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh lantaran itu terdapat interaksi antar wlayah. Interaksi ini ditandai dengan adanya fatwa barang dan orang antar wilayah.

Analisis diffusi

Dalam proses interaksi akan terjadi diffusi (pencemaran). Diffuse perluasan yaitu proses informasi material menjalar malalui populasi dari suatu daerah ke daerah lain. Diffuse penampungan merupakan proses yang sama dengan penyebaran keruangan, informasi, material yang didifusikan meninggalkan daerah yang usang dan berpindah ke daerah yang baru.

Menurut Edward Ullman adanya interaksi keruangan didasrkan atas tiga faktor yaitu: (1) saling melengkapi antar wilayah, (2) kesempatan berintervensi, dan (3) fasilitas permindahan dalam ruang.

Pola keruangan berkenaan dengan distribusi elemen-elemen pembentuk ruang. Fenomena titik, garis, dan areal mempunyai kedudukan sendiri-sendiri, baik secara implisit maupun eksplisit dalam hal agihan keruangan (Coffey, 1989). Beberapa teladan ibarat cluster pattern, random pattern, regular pattern, dan cluster linier pattern untuk kenampakan-kenampakan titik sanggup diidentifikasi (Whynne-Hammond, 1985; Yunus, 1989).

Agihan kenampakan areal (bidang) sanggup berupa kenampakan yang memanjang (linier/axial/ribon); kenampakan ibarat kipas (fan-shape pattern), kenampakan membulat (rounded pattern), empat persegi panjang (rectangular pattern), kenampakan gurita (octopus shape pattern), kenampakan bintang (star shape pattern), dan beberapa adonan dari beberapa yang ada. Keenam bentuk pertanyaan geografi dimuka selalu disertakan dalam setiap analisisnya.

Proses keruangan berkenaan dengan perubahan elemen-elemen pembentuk ruang dana ruang. Oleh lantaran itu analisis perubahan keruangan selalu terkait dengan dengan dimensi kewaktuan (temporal dimension). Dalam hal ini minimal harus ada dua titik waktu yang dipakai sebagai dasar analisis terhadap fenomena yang dipelajari.

Kerangka analisis pendekatan keruangan sanggup dicontohkan sebagai berikut.
“....belakangan sering dijumpai banjir dan tanah longsor. Bencana itu terjadi di daerah hulu sungai Konto Pujon Malang. Bagaimana memecahkan permasalahan tersebut dengan memakai pendekatan keruangan?
Untuk itu diharapkan kerangka kerja studi secara mendalam wacana kondisi alam dan masyarakat di wilayah hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap pertama perlu dilihat struktur, pola, dan proses keruangan daerah hulu sungai Konto tersebut.

Pada tahap ini sanggup diidentifikasi fenomena/obyek-obyek yang terdapat di daerah hulu sungai Konto. Setelah itu, pada tahap kedua sanggup dilakukan zonasi wilayah menurut kerakteristik kelerengannya. Zonasi itu akan menghasilkan zona-zona menurut kemiringannya, contohnya curam, agak curam, agak landai, landai, dan datar. Berikut pada tahap ketiga ditentukan pemanfaatan zona tersebut untuk keperluan yang tepat. Zona mana yang dipakai untuk konservasi, penyangga, dan budidaya. Dengan demikian tidak terjadi kesalahan dalam pemanfaatan ruang tersebut. Erosi dan tanah eksklusif sanggup dicegah, dan bersamaan dengan itu sanggup melaksanakan budidaya tumbuhan pertanian pada zona yang sesuai.

Studi fisik demikian saja masih belum cukup. Karakteristik penduduk di wilayah hulu sungai Konto itu juga perlu dipelajari. Misalnya jenis mata pencahariannya, tingkat pendidikannya, ketrampilan yang dimiliki, dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Informasi itu sanggup dipakai untuk pengembangan daerah yang terbaik yang berbasis masyarakat setempat. Jenis tumbuhan apa yang perlu ditanam, bagaimana cara penanamannya, pemeliharaannya, dan pemanfaatannya. Dengan pendekatan itu terlihat interelasi, interaksi, dan intergrasi antara kondisi alam dan insan di situ untuk memecahkan permasalahan banjir dan tanah longsor.



Pendekatan keruangan (Spatial Approach) merupakan salah satu metode pendekatan dalam kajian ilmu Geografi, dalam pendekatan keruangan ini mengkaji rangkaian persamaan dari perbedaan fenomena geosfer dalam ruang sehingga yang perlu diperhatikan yakni persebaran penggunaan ruang dan penyediaan ruang yang akan dimanfaatkan.

Pada pelaksanaannya, pendekatan keruangan ini harus sempurna menurut prinsip-prinsip yang berlaku, yakni prinsip penyebaran, internal dan deskripsi. Pendekatan keruangan ini mencakup pendekatan topik, pendekatan kegiatan insan dan pendekatan regional. Secara teoritis pendekatan itu sanggup dipisahkan satu sama lain, akan tetapi pada kenyataannya ketiga hal tersebut saling berafiliasi satu sama lain.



1. Pendekatan Topik

Dalam mempelajari suatu problem di wilayah tertentu, peneliti sanggup mengadakan pendekatan dari topik tertentu yang menjadi perhatian utama. Misalnya didaerah tertentu, topik yang menjadi perhatian utama yakni pencemaran udara, inilah yang menjadi sorotan utama dalam pendekatan topik. Pencemaran udara di suatu daerah tersebut diungkapkan jenis-jenisnya, sebab-sebabnya, penyebarannya, dan dampak yang ditimbulkannya. Hal yang menjadi pegangan pokok dalam melaksanakan pendekatan topik yakni dihentikan dilepaskan hubungannya dengan ruang yang menjadi lokasi tanda-tanda atau topik yang didekati.

2. Pendekatan Aktivitas Manusia

Pada pendekatan keruangan yang kedua ini, pendekatan utama diarahkan kepada kegiatan manusianya (human aktivities). Pernyataan utama pada jenis pendekatan ini yakni bagaimana kegiatan insan atau kegiatan penduduk disuatu daerah atau disuatu wilayah yang bersangkutan. Aktivitas penduduk ini sanggup ditinjau dari penyebarannya, interelaksinya dan deskripsinya dengan gejala-gejala lain yang berkenaan dengan kegiatan tadi ditinjau dari penyebarannya, sanggup dibedakan jenis-jenis kegiatan tadi sehubungan dengan matapencaharian penduduk. Dari penyebaran kegiatan penduduk tadi, sanggup diungkapkan interelasinya dengan keadaan kesuburan tanah, hidrografi, keadaan komunikasi transportasi, keadaan tinggi rendah permukaan, dan faktor-faktor lainnya. Maka dari itu, sanggup dibentuk suatu deskripsi wacana kegiatan penduduk tadi menurut interelasi keruangan dengan gejala-gejala lain dan dengan banyak sekali problem sebagai sistem keruangannya.


3. Pendekatan Regional

Analisis pendekatan wilayah mengkaji bahwa persebaran fenomena geografi persebarannya tidak merata dan hal tersebut disebabkan oleh karakteristik yang berbeda antar wilayah, dimana antar wilayah sanggup mempunyai kelebihan dan kekurangan kalau dibandingkan dengan wilayah lain, sehingga pada wilayah yang berbeda maka akan mempunyai karakteristik yang berbeda pula. Pendekatan wilayah/ regional berarti mendekati suatu tanda-tanda atau suatu problem dari region tempat tanda-tanda atau problem tersebut tersebar. Penekanan utama pendekatannya bukan kepada topik atau kegiatan manusiannya, melainkan kepada region yang merupakan ruang atau lokasinya. Misalnya dalam melaksanakan studi wacana problem pencemaran udara sanggup dilakukan pendekatan regional wacana pencemaran udara tersebut menurut wilayahnya. Berdasarkan penyebaran, sanggup pula diungkapkan lantaran pencemaran udara itu terjadi di region wilayah yang bersangkutan. Selanjutnya sanggup diungkapkan interelasi dan interaksi tanda-tanda pencemaran udara itu dengan gejala-gejala lain pada region yang sama.

Pendekatan keruangan (spatial approach) yakni upaya dalam mengkaji rangkaian dan perbedaan fenomena geosfer dalam ruang. Di dalam pendekatan keruangan ini yang perlu diperhatikan yakni persebaran penggunaan ruang dan penyediaan ruang yang akan dimanfaatkan. Contoh penggunaan pendekatan keruangan yakni perencanaan pembukaan lahan untuk daerah permukiman yang baru. Data-data yang perlu diketahui untuk keperluan tersebut terutama yang menyangkut keadaan lokasi, antara lain ketinggian tempat, kemiringan lereng, jenis tanah, dan keadaan air tanah. Hal itu lantaran keadaan fisik lokasi tersebut akan besar lengan berkuasa terhadap tingkat pembiasaan insan yang akan menempatinya.

Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi sanggup dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997).

Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut sanggup disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk ibarat itu?
5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur ibarat itu?
6. Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari eksistensi ruang ibarat itu selalu dikaitkan dengan kepentingan insan pada ketika ini dan akan datang.
Pola keruangan berkenaan dengan distribusi elemen-elemen pembentuk ruang. Fenomena titik, garis, dan areal mempunyai kedudukan sendiri-sendiri, baik secara implisit maupun eksplisit dalam hal agihan keruangan (Coffey, 1989). Beberapa teladan ibarat cluster pattern, random pattern, regular pattern, dan cluster linier pattern untuk kenampakan-kenampakan titik sanggup diidentifikasi (Whynne-Hammond, 1985; Yunus, 1989).
Agihan kenampakan areal (bidang) sanggup berupa kenampakan yang memanjang (linier/axial/ribon); kenampakan ibarat kipas (fan-shape pattern), kenampakan membulat (rounded pattern), empat persegi panjang (rectangular pattern), kenampakan gurita (octopus shape pattern), kenampakan bintang (star shape pattern), dan beberapa adonan dari beberapa yang ada. Keenam bentuk pertanyaan geografi dimuka selalu disertakan dalam setiap analisisnya.
Proses keruangan berkenaan dengan perubahan elemen-elemen pembentuk ruang dana ruang. Oleh lantaran itu analisis perubahan keruangan selalu terkait dengan dengan dimensi kewaktuan (temporal dimension). Dalam hal ini minimal harus ada dua titik waktu yang dipakai sebagai dasar analisis terhadap fenomena yang dipelajari.
Kerangka analisis pendekatan keruangan sanggup dicontohkan sebagai berikut.
“….belakangan sering dijumpai banjir dan tanah longsor. Bencana itu terjadi di daerah hulu sungai Konto Pujon Malang. Bagaimana memecahkan permasalahan tersebut dengan memakai pendekatan keruangan?
Untuk itu diharapkan kerangka kerja studi secara mendalam wacana kondisi alam dan masyarakat di wilayah hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap pertama perlu dilihat struktur, pola, dan proses keruangan daerah hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap ini sanggup diidentifikasi fenomena/obyek-obyek yang terdapat di daerah hulu sungai Konto. Setelah itu, pada tahap kedua sanggup dilakukan zonasi wilayah menurut kerakteristik kelerengannya. Zonasi itu akan menghasilkan zona-zona menurut kemiringannya, contohnya curam, agak curam, agak landai, landai, dan datar. Berikut pada tahap ketiga ditentukan pemanfaatan zona tersebut untuk keperluan yang tepat. Zona mana yang dipakai untuk konservasi, penyangga, dan budidaya. Dengan demikian tidak terjadi kesalahan dalam pemanfaatan ruang tersebut. Erosi dan tanah eksklusif sanggup dicegah, dan bersamaan dengan itu sanggup melaksanakan budidaya tumbuhan pertanian pada zona yang sesuai.
Studi fisik demikian saja masih belum cukup. Karakteristik penduduk di wilayah hulu sungai Konto itu juga perlu dipelajari. Misalnya jenis mata pencahariannya, tingkat pendidikannya, ketrampilan yang dimiliki, dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Informasi itu sanggup dipakai untuk pengembangan daerah yang terbaik yang berbasis masyarakat setempat. Jenis tumbuhan apa yang perlu ditanam, bagaimana cara penanamannya, pemeliharaannya, dan pemanfaatannya. Dengan pendekatan itu terlihat interelasi, interaksi, dan intergrasi antara kondisi alam dan insan di situ untuk memecahkan permasalahan banjir dan tanah longsor.

Pendekatan Keruangan (Spatial Approach) Setiap tempat di permukaan bumi mempunyai ciri-ciri yang khusus dimana sanggup dibedakan antara tempat yang satu dengan tempat yang lain. Oleh lantaran itu, Konsep Ruang yakni seluruh permukaan bumi yang merupakan tempat hidup tumbuhan, hewan, dan manusia. Pendekatan keruangan yakni menganalisis tanda-tanda atau fenomena geografis menurut penyebarannya dalam ruang. Analisis keruangan merupakan pendekatan yang khas dalam geografi, lantaran merupakan studi wacana keanekaragaman ruang muka bumi dengan membahas masing masing aspek-aspek keruangannya. Aspek - aspek ruang muka bumi mencakup faktor lokasi, kondisi alam, dan kondisi sosial budaya masyarakatnya. Dalam mengkaji aspek-aspek tersebut, spesialis geografi sangat memperhatikan faktor letak, distribusi (persebaran), interrelasi serta interaksinya. Karena itu, analisis keruangan sanggup dijadikan dasar untuk perencanaan penggunaan lahan tertentu. Salah satu teladan pendekatan keruangan yakni sebagai berikut. Contoh penggunaan pendekatan keruangan misalanya di daerah kita ada perencanaan pernbukaan lahan untuk daerah permukiman yang baru. Maka yang harus kita perhatikan yakni segala aspek yang berkorelasi terhadap wilayah yang akan dipakai tersebut. Contohnya yakni morfologi, ini kaitannya dengan banjir, longsor, air tanah. Hal itu diharapkan lantaran keadaan fisik lokasi sanggup mempengaruhi tingkat pembiasaan insan yang akan menempatinya. Secara teoritis pendekatan itu sanggup dipisahkan satu sama lain, akan tetapi pada kenyataan praktisnya, berafiliasi satu sama lain. 1. Pendekatan Topik sDalam mempelajari suatu problem geografi di wilayah tertentu, kita sanggup mengadakan pendekatan dari topik tertentu yang menjadi perhatian utama. Misalnya di daerah tertentu, topik yang menjadi perhatian utama yakni kemiskinan maka kemiskinan inilah yang menjadi sorotan utama dalam pendekatan topik. Yang menjadi pegangan pokok dalam melaksanakan pendekatan topik ini, yaitu dihentikan dilepaskan hubungannya dengan ruang yang menjadi wadah tanda-tanda atau topik yang kita dekati. Faktor-faktor geografi ibarat manusianya dan keadaan fisisnya dihentikan diabaikan. Dengan landasan keruangan ini, kita akan sanggup mengungkapkan karakteristik kemiskinan di daerah yang bersangkutan kalau dibandingkan dengan tanda-tanda atau kemiskinan di wilayah yang lainnya. Kemiskinan di daerah tersebut diungkapkan jenis-jenisnya, sebab-sebabnya, penyebarannya, intensitasnya, dan interelasinya dengan tanda-tanda yang lain dan dengan problem secara keseluruhan. 2. Pendekatan Aktivitas Manusia (Human Activities) Kehidupan insan dimanapun ruang dan tempatnya maka akan menyesuaikan diri dan menyesuaikan dengan kondisi ruang. Aktivitas insan ini sanggup ditinjau dari penyebarannya, interelasinya, dan deskripsinya dengan gejala-gejala lain yang berkenaan dengan kegiatan manusia. Ditinjau dari penyebarannya, kita akan sanggup membedakan jenis kegiatan tadi sehubungan dengan mata pencarian penduduk. Apakah kegiatan itu berlangsung di daerah pegunungan, apakah di dataran rendah, apakah erat dengan sungai, apakah dari sungai, apakah di pantai, dan seterusnya. Dari kegiatan penyebaran penduduk tadi, kita sanggup mengungkapkan interelasinya dengan keadaan kesuburan tanah, dengan hidrografi, dengan keadaan komunikasi-transportasi, dengan keadaan tinggi-rendah permukaan, dan dengan faktor faktor geografi lainnya. Oleh lantaran itu, kita sanggup menciptakan suatu deskripsi wacana kegiatan penduduk tadi menurut interelasi keruangan dengan gejala-gejala lain dan dengan banyak sekali problem sebagai sistem keruangannya.

Pendekatan keruangan(spatial approach) menganalisis tanda-tanda atau fenomena geografis menurut penyebarannya dalam ruang (waluya,2009:10). Pendekatan keruangan termasuk di dalamnya melihat unsur-unsur sosial, budaya dan fisik alamiah serta memperhatikan lokasi dan persebarannya di dalam ruang. Contohnya :keberadaan lokasi dari daerah industri textil di kabupaten Bandung (Dayeuh ndeso dan Rancaekek) berada erat dengan kanal tol? kenapa tidak di tengah-tengah pemukiman penduduk ibarat yang ada di Majalaya?.

Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi sanggup dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997).
Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut sanggup disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).

Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tersebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk ibarat itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk ibarat itu?
5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur ibarat itu?
6. Who suffers what dan who benefits what? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia.
Dampak positif dan negatif dari eksistensi ruang ibarat itu selalu dikaitkan dengan kepentingan insan pada ketika ini dan akan datang.

Pendekatan keruangan (spatial approach) merupakan metode pendekatan khas geografi. Pada pelaksanaannya, pendekatan keruangan harus tetap menurut prinsip-prinsip yang berlaku, yakni prinsip persebaran, interelasi, dan deskripsi. Pendekatan yang termasuk pendekatan keruangan yakni pendekatan topic, pendekatan kegiatan manusia, dan pendekatan regional. Secara teoretis, banyak sekali pendekatan tersebut sanggup dipisah-pisahkan tetapi pada kenyataannya saling berafiliasi satu sama lain.

A. Pendekatan Topik
Dalam mempelajari problem geografi di suatu wilayah, seorang peneliti sanggup mengadakan pendekatan pada topik tertentu yang menjadi perhatian utama. Misalnya, topik yang menjadi perhatian utam yakni kelaparan, sehingga msalah kelaparan menjadi sorotan utama dalam pendekatan yang digunakan.
Kelaparan di daerah tersebut diungakapkan jenis-jenisnya, penyebabnya, penyebarannya, intesitasnya, interelasinya dengan tanda-tanda lain, serta keterkaitannya dengan problem lain secara keseluruhan.
Hal yang menjadi pegangan pokok dalam melaksanakan pendekatan topik yakni hubungan keruangan dengan lokasi tanda-tanda atau topik yang diteliti. Faktor-faktor geografis, ibarat menusia dan keadaan lingkungan fisik, dihentikan diabaikan. Dengan landasan keruangan ini, karakteristik problem kelaparan di suatu wilayah sanggup diungkap.

B. Pendekatan Aktivitas Manusia
Pada pendekatan keruangan, perhatian utam diarahkan kepada kegiatan manusia. Pertanyaan utama pada jenis pendekatan ini yakni bagaimana kegiatan insan atau kegiatan penduduk pada suatu daerah atau wilayah.
Aktivitas penduduk ini sanggup ditinjau dari penyebarannya, interelasinya dan deskripsinya dengan gejala-gejala lain yang berkenaan dengan kegiatan itu. Ditinjau dari penyebarannya, jenis-jenis kegiatan sanggup dibedakan sehubungan dengan mata pencarian penduduk. Contohnya,aktivitas penduduk di daerah pegunungan, di dataran rendah, di pinggir sungai, dan di pantai.
Dari penyebaran kegiatan penduduk, sanggup keterkaitannya dengan kesuburan tanah, hidrografi, jaringan komunikasi dan transportasi, ketinggian wilayah, dan faktor-faktor geografis lainnya. Oleh lantaran itu, sanggup dibentuk suatu deskripsi dengan gejala-gejala lain sebagai sistem keruangan.

C. Pendekatan regional
Pengertian region yakni suatu wilayah di permukaan bumi yang mempunyai karakteristik tertentu yang khas, yang membedakan wilayah tersebut dengan wilayah-wilayah lain.
Pendekatan regional berarti mengkaji suatu tanda-tanda atau suatu problem menurut region tempat terjadinya tanda-tanda atau problem tersebut. Penekanan utama pendekatannya bukan pada topik atau kegiatan manusia, melainkan pada region yang merupakan ruang atau lokasinya. Moisalnya, dalam melaksanakan studi wacana problem kelaparan, sanggup dilakukan pendekatan region wacana tanda-tanda kelaparan tersebut menurut wilayah. Pertanyaan yang sanggup dikemukakan yakni pada wilayah mana saja terjadi kelaparan. Hasil balasannya yakni klarifikasi mengenai penyebaran tanda-tanda atau masalh kelaparan.
Berdasarkan penyebaran, sanggup pula diungkapkan lantaran terjadinya kelaparan di region atau wilayah yang bersangkutan. Selanjutnya, sanggup diungkapakan interelasi dan interaksi tanda-tanda kelaparan dengan gejala-gejala lain pada region yang sama. Dari hasil pendekatan regional memakai prinsip-prinsip geografi, sanggup dibentuk deskripsi mengenai tanda-tanda atau problem kelaparan pada wialayah yang bersangkutan.

Pendekatan ini mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat- sifat penting. Dalam analisa keruangan ini yang harus diperhatikan yakni penyebaran penggunaan ruang yang ada, dan penyediaan ruang yang akan dipakai untuk pelbagai kegunaan yang dirancangkan. Dalam analisa keruangan ini sanggup dikumpulkan data lokasi yang terdiri dari data titik (point data) dan data bidang (areal data). Data titik digolongkan menjadi data ketinggian tempat, data sampel batuan, data sampel tanah dan sebagainya. Data bidang digolongkan menjadi data luas hutan, data luas daerah pertanian, data luas padang alang-alang, dan sebagainya.

Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi sanggup dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997).
Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut sanggup disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk ibarat itu?
5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur ibarat itu?
6. Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari eksistensi ruang ibarat itu selalu dikaitkan dengan kepentingan insan pada ketika ini dan akan datang.
Pola keruangan berkenaan dengan distribusi elemen-elemen pembentuk ruang. Fenomena titik, garis, dan areal mempunyai kedudukan sendiri-sendiri, baik secara implisit maupun eksplisit dalam hal agihan keruangan (Coffey, 1989). Beberapa teladan ibarat cluster pattern, random pattern, regular pattern, dan cluster linier pattern untuk kenampakan-kenampakan titik sanggup diidentifikasi (Whynne-Hammond, 1985; Yunus, 1989).
Agihan kenampakan areal (bidang) sanggup berupa kenampakan yang memanjang (linier/axial/ribon); kenampakan ibarat kipas (fan-shape pattern), kenampakan membulat (rounded pattern), empat persegi panjang (rectangular pattern), kenampakan gurita (octopus shape pattern), kenampakan bintang (star shape pattern), dan beberapa adonan dari beberapa yang ada. Keenam bentuk pertanyaan geografi dimuka selalu disertakan dalam setiap analisisnya.
Proses keruangan berkenaan dengan perubahan elemen-elemen pembentuk ruang dana ruang. Oleh lantaran itu analisis perubahan keruangan selalu terkait dengan dengan dimensi kewaktuan (temporal dimension). Dalam hal ini minimal harus ada dua titik waktu yang dipakai sebagai dasar analisis terhadap fenomena yang dipelajari.
Kerangka analisis pendekatan keruangan sanggup dicontohkan sebagai berikut.
“….belakangan sering dijumpai banjir dan tanah longsor. Bencana itu terjadi di daerah hulu sungai Konto Pujon Malang. Bagaimana memecahkan permasalahan tersebut dengan memakai pendekatan keruangan?
Untuk itu diharapkan kerangka kerja studi secara mendalam wacana kondisi alam dan masyarakat di wilayah hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap pertama perlu dilihat struktur, pola, dan proses keruangan daerah hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap ini sanggup diidentifikasi fenomena/obyek-obyek yang terdapat di daerah hulu sungai Konto. Setelah itu, pada tahap kedua sanggup dilakukan zonasi wilayah menurut kerakteristik kelerengannya. Zonasi itu akan menghasilkan zona-zona menurut kemiringannya, contohnya curam, agak curam, agak landai, landai, dan datar.
Berikut pada tahap ketiga ditentukan pemanfaatan zona tersebut untuk keperluan yang tepat. Zona mana yang dipakai untuk konservasi, penyangga, dan budidaya. Dengan demikian tidak terjadi kesalahan dalam pemanfaatan ruang tersebut. Erosi dan tanah eksklusif sanggup dicegah, dan bersamaan dengan itu sanggup melaksanakan budidaya tumbuhan pertanian pada zona yang sesuai.
Studi fisik demikian saja masih belum cukup. Karakteristik penduduk di wilayah hulu sungai Konto itu juga perlu dipelajari. Misalnya jenis mata pencahariannya, tingkat pendidikannya, ketrampilan yang dimiliki, dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Informasi itu sanggup dipakai untuk pengembangan daerah yang terbaik yang berbasis masyarakat setempat. Jenis tumbuhan apa yang perlu ditanam, bagaimana cara penanamannya, pemeliharaannya, dan pemanfaatannya. Dengan pendekatan itu terlihat interelasi, interaksi, dan intergrasi antara kondisi alam dan insan di situ untuk memecahkan permasalahan banjir dan tanah longsor.

Sumber http://smamuhammadiyah1tasikmalayageo.blogspot.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pendekatan Keruangan (Spatial Approach)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel