-->

iklan banner

Guru Dan Pengembangan Kurikulum



 Guru yaitu pendidik profesional dengan kiprah utama mendidik Guru dan Pengembangan Kurikulum

A.    Pengertian
·         Pengertian Guru
Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 Guru yaitu pendidik profesional dengan kiprah utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi penerima didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. 

Secara sederhana guru sanggup di simpulkan suatu pekerjaan yang mendidik penerima didik.
·         Pengertian Pegembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum yaitu sebuah proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga sanggup memperlihatkan kondisi mencar ilmu mengajar yang baik. 


Baca Juga :

Dengan kata lain pengembangan kurikulum yaitu kegiatan untuk menghasilkan kurikulum gres melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu.

Masalah guru yaitu duduk kasus yang sangat penting. Sebab mutu guru turut memilih mutu pendidikan. 

Sedangkan mutu pendidikan akan memilih mutu generasi muda, sebagai calon warga Negara dan warga masyarakat. 

Masalah mutu guru sangat tergantung kepada system pendidikan guru. Sebagaimana halnya mutu pendidikan pada umumnya, maka mutu pendidikan guru harus ditinjau dari dua kreteria pokok,yakni kriteria produk dan kriteria proses.
Produktivitas pendidikan guru ditentukan oleh tujuan pendidikan guru yang hendak dicapai,baik tujuan intrinsik maupun tujuan ekstrinsik. 

Tujuan intrinsik merupakan tujuan-tujuan yang didasarkan pada system nilai dan kultural masyarakat. 

Di Negara kita,falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dituangkan dalam GBHN,dimana pendidikan guru merupakan belahan integral di dalamnya. 

Sedangkan tujaun ekstrinsik, mempersoalkan tujuan pendidikan, apakah sesuai dengan tuntutan lapangan kerja dan masyarakat. 

Secara spesifik, apakah pendidikan guru relevan dengan tuntutan kerja di sekolah daerah ia bertugas.
Kriteria proses melihat pendidikan guru dari sudut penyelenggaraan pendidikan, antara lain memperbincangkan duduk kasus kurikulum , alat media, dan peranan guru yang bertugas dalam dalam forum pendidikan guru. 

Tentu saja kurikulum dan banyak sekali komponen lainnya yang menunjang proses pendidikan guru, semuanya dibina dan direncanakan sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai. Kaprikornus terperinci antara kreiteria produk dan kreteria proses harus sejalan.

B.     Guru Dan Pengembangan Kurikulum
.Sebagai pelaksana kurikulum maka guru pulalah yang membuat kegiatan mencar ilmu bagi murid-muridnya. 

Berkat keahlian, keterampilan dan kemampuan seninya dalam mengajar, guru bisa membuat situasi mencar ilmu yang aktif yang menggairahkan yang penuh kesungguhan dan bisa mendorong kreativitas anak (Sukma dinata, 2012:157).
Bahkan, menurut pandangan yang ada kini ini, betapapun manis dan indahnya kurikulum, keberhasilan kurikulum tersebut pada jadinya bergantung pada masing-masing guru (Hamalik, 2011: 52).
Pada dasarnya, para guru itulah yang paling mengetahui banyak sekali permasalahan kurikulum yang telah dilaksanakan. 

Oleh alasannya itu, banyak sekali saran mereka sangat dibutuhkan dalam perencanaan atau penyusunan kurikulum baru, tentu saja melalui mekanisme pribadi maupun tidak langsung.
Keberhasilan kurikulum sebagaian besar terletak di tangan guru, selaku pelaksanan kurikulum. 

Para guru bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelaksanaan kurikulum, baik secara keseluruhan maupun sebagai kiprah yang berupa penyampaian bidang studi atai mata pelajaran yang sesuai dengan kegiatan yang dirancang kurikulum.
Untuk itu, guru harus berusaha biar penyampaian bahan-bahan pelajaran itu sanggup berhasil secara maksimal. 

Dikarenakan pokok-pokok bahasan dalam kurikulum tersebut hanya dalam tatanan garis besarnya saja, maka guru hendaknya berusaha biar sedapat mungkin melaksanakan pembiasaan dengan kebutuhan setempat.
Karena itu, kiprah guru yaitu sebagai pengajar, pembimbing, manajer, maupun ilmuwan, yang dituntut mencurahkan segala kemampuannya sehingga pelaksanaan kurikulum tersebut sanggup berhasil. 

Selain itu, setiap guru dituntut untuk memahami sebaik mungkin tujuan, isi dan organisasi serta sistem penyampaian, sehingga kualitas hasil pengajaran yang diberikan mencapai sasaran yang dikendaki.
Sebagai pengelola kurikulum, guru bertanggung jawab antara lain membuat perencanaan mengajar (rencana tahunan, planning bulanan, planning permulaan mengajar dan planning harian), baik dalam bentuk perencanaan unit maupun dalam pembuatan model satuan pelajaran.

 Selain itu, guru harus berusaha mengumpulkan dan mencari materi dari banyak sekali sumber, menyediakan perlengkapan atau media pengajaran, mengadakan komunikasi dan konsultasi dengan banyak sekali tubuh atau institusi yang mungkin sanggup membantunya dalam pelaksanaan kurikulum.
Kemudian, mengumpulkan data perihal partisipasi penerima didik dlam mengikuti pelajaran atau banyak sekali kegiatan kurikuler lainnya, ikut serta menyusun jadwal pelajaran dan mengikuti banyak sekali pertemuan yang diselenggarakan oleh sekolah dan para pengawas, serta membuat laporan perihal hasil kegiatan kurikulum yang telah dilakukan. 

Tugas sebagai pengelola kurikulum sejalan dengan kiprah guru sebagai administrator. Peran ini erat kaitannya dengan peranan lainnya, yang sekaligus menunjang training dan pengembangan kurikulum di sekolah.

C.    Pendekatan Perencanaan Kurikulum
Ada banyak sekali macam pendekatan yang dipakai dalam menyebarkan kurikulum, yaitu :
1.      Pendekatan berorientasi pada materi pelajaran
Mula-mula pelaksanan dalam perencanaan dan pengembanagan kurikulum itu menurut materi. 

Inti dari proses mencar ilmu megajara ialah ditentukan oleh pemilihan materi. Pendekatan ini diterapkan di Indonesia dalm kurikulum sebelum kurikulum 1975. 

Kelebihan pendekatan ini ialah materi pengajaran lebih flexible dan bebas dalam menyusunnya, alasannya tidak ada ketentuan yang niscaya dalam memilih materi pengajaran yang sesuai dengan tujuan. 

Kelemahannya ialah tujuan pengajaran kurang jelas, maka sukar ditentukan pedoman dalam memilih metode yang sesuai untuk pengajaran .
 
2.      Pendekatan berorientasi pada tujuan
Pendekatn ini menempatkan rumusan atau penetapan tujuan yang hendak dicapai dalam posisi sentral, alasannya tujuan yaitu pemberi arah dalam pelaksanaan proses mencar ilmu megajar . 

Penyusunana dengan pendekatan menurut tujuan bahwa tujuan pendidikan dicantumkan terlebih dahulu. Dari tujuan-tujuan ini menjadi tujuan yang terperinci, yang jadinya ke tujuan yang bersifat operasional. 
3.      Pendekatan dengan contoh organisasi bahan
Pendekatan ini sanggup dilihat dari contoh pendekatan: subject matter curicululm, correlated curriculum, dan integrated curriculum.
a.       Pendekatan contoh subject matter curriculum
Pendekatan ini penekanannya pada mata pelajaran secara terpisah-pisah, misalnya: sejarah, ilmu bumu, biologi dan lainnya. Mata pelajaran ini tidak bekerjasama satu dengan yang lainnya.
b.      Pendekatan contoh correlated curriculum
Pendekatan dengan contoh mengkelompokkan beberapa mata pelajaran yang seiring, yang bisa secara erat berhubungan. Misalnya: IPA, IPS, dan sebagainya.
c.       Pendekatan contoh integrated curriculum
Pendekatan ini didasarkan kepada keseluruhan hal yang memiliki arti tertentu. Keseluruhan ini tidak hanya merupakan kesimpulan dari bagian-bagiannya, tetapi memiliki arti tertentu. 

Dalam hal ini, tidak hanya melalui pelajaran yang terpisah-pisah, namun harus dijalin suatu keutuhan yang meniadakan batas tertentu dan masing-masing materi pelajaran.
4.      Pendekatan rekonstruksionalisme
Pendektan ini memfokuskan kurikulum pada duduk kasus penting dayng dihadapi masyarakat, ibarat polusi, ledakan, penduduk, malapetaka akhir tujuan teknologi. Dalam gerakan ini terdapat dua kelompok yang sangat berbeda pandangan terhadap kurkulum, yaitu :
a.       Rekonstruksionalisme konservatif
Pendekatan ini mneganjurkan biar pendidikan ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat.
b.      Rekonstruksionalisme radikal
Pendekatan ini menganjurkan biar pendidik formal maupun non0formal mengabdikan diri demi tercapainya tatanan social gres menurut pembagian kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata. 
5.      Pendekatan humanistic
Kurikulum ini berpusat pada siswa dan mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai materi integral dari proses belajar. 

Para pendidk humanistic yakin, bahwa kesejahteraan mental dan emosional siswa harus dipandang sentral dalam kurikulum, biar mencar ilmu itu memberi hasil maksimal.
6.      Pendekatan akuntabilitas
Accountability lemabaga pendidikan perihal pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat akhir-akhir ini menjadi hal penting dalam dunia pendidikan. 

Suatu sistem yang akuntabel memilih standard an tujuan spesifik yang terperinci serta mengatur efektifitasnya menurut taraf keberhasilan siswa unruk mencapai satandar itu.

D.    Tenaga Profesional Dan Non Profesional
1.      Tenaga-tenaga professional
Pengajaran dilaksanakan oleh tenaga-tenaga professional dan tenaga nonprofesional bertingkat-tingkat persiapannya. 

Tingkat profesionalisasi itu didasarkan pada kemampuan khusus, pengalaman latarbelakang akademis, ijazah, dan gelar yang milikinya.
Semua guru tersebut bertanggung jawab mengatur, walaupun tingkat otoritasnya tidak sama dalam system pengajaran. 

Penempatan jenis guru sekolah bergantung kepada system ijazah keguruan pada suatu Negara. 
  
Semua jenis staf professional tersebut dikategorikan menjadi empat kategori, lantaran beberapa diantaranya mengambarkan kesamaan tertentu.
a.       Guru pelaksana
b.      Guru profesional
c.       Guru provisional
d.      guru kadet [calon guru]
2.      Tenaga-tenaga Nonprofesional
Tenaga-tenaga nonprofesional yaitu tenaga-tenaga yang terlatih untuk bertindak sebagai tenaga pembantu tenaga profesioni. 

Tenaga nonprofesional ini bukan saja memperlihatkan peluang yang lebih besar bagi tenaga-tenaga profesionl untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan professional, akan tetapi juga memperkaya pengalaman siswa dan membebaskan tenaga professional dari tugas-tugas yang bukan professional. 

Baik itu. Secara tidak pribadi mengurangi beban biaya mengingat keterbatasan pembiayaan.


Dari Berbagai Sumber

Sumber http://ikhtisarmateri.blogspot.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Guru Dan Pengembangan Kurikulum"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel